Menjaga Martabat Lewat Donasi Sunyi,Gerakan “Proyek Bayangan” Mahasiswa di Lhokseumawe

Source Doc: kayuputihbuleleng.desa.id

Lhokseumawe, (29/06/2026). Di sebuah sudut teras rumah sewa sederhana di kawasan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, tumpukan tas sekolah berwarna cerah, kotak pensil, dan pak-pak buku tulis berjajar rapi.

Di tengah ruangan, seorang pemuda sibuk mencocokkan daftar nama anak dengan paket perlengkapan sekolah yang akan dikirim besok subuh.

Ia adalah Fajar (22), bukan nama sebenarnya, mahasiswa tingkat akhir asal Aceh Utara yang sedang menempuh kuliah di Lhokseumawe ini sengaja meminta identitas aslinya dirahasiakan.

Baginya, sorotan kamera justru bisa merusak ketulusan dari apa yang ia sebut sebagai “proyek bayangan”.

Sejas dua tahun lalu, Fajar menginisiasi gerakan pengumpulan donasi perlengkapan sekolah untuk anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu di pedalaman Aceh Utara serta pesisir Lhokseumawe.

Menariknya, gerakan ini berjalan senyap, tak ada akun Instagram khusus, tak ada tagar viral, dan tak ada dokumentasi wajah penerima yang dipajang di media sosial.

“Saya sering melihat donasi yang dijadikan konten, di mana anak-anak diminta memegang papan bantuan sambil tersenyum ke kamera. Saya tidak mau ego kita sebagai pemberi justru mengikis martabat mereka,” ujar Fajar pelan sambil memasukkan beberapa pensil warna ke dalam tas ransel baru.

Setiap menjelang tahun ajaran baru, Fajar bergerak secara logistik melalui jaringan pesan privat ke teman-teman kuliah, alumni, atau dosen yang ia kenal tepercaya, uang yang terkumpul langsung dikonversi menjadi barang-barang kebutuhan sekolah dasar.

Ia mengemas semuanya sendiri, lalu mendistribusikannya secara langsung saat malam hari atau subuh, menitipkannya melalui keuchik (kepala desa) atau tokoh masyarakat setempat tanpa embel-embel nama.

Tantangan terbesar Fajar bukanlah mengumpulkan dana, melainkan menolak publisitas.

Beberapa kali donor menawarkan dana melimpah dengan syarat kegiatannya harus diliput atau dibuatkan konten rilis namun Fajar menolaknya dengan halus.

Reporter: Shafa Zahwah

Editor: Afifa Khairiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *