
Lhokseumawe,27/06/2026 – Di tengah menjamurnya kuliner modern, keberadaan kue tradisional Aceh tetap mampu bertahan dan diminati masyarakat. Selain mempertahankan cita rasa khas yang diwariskan secara turun-temurun, para pelaku usaha juga mulai memanfaatkan media sosial sebagai strategi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Aton (33), pedagang kue tradisional yang meneruskan usaha warisan orang tuanya. Sejak mulai mengelola usaha secara mandiri pada 2017, Aton terus berupaya mempertahankan eksistensi kuliner khas Aceh dengan mengombinasikan kualitas produk dan pemasaran digital.
Menurut Aton, usaha tersebut sebenarnya telah dirintis oleh orang tuanya sejak lama. Kini, usahanya memiliki dua gerai yang berlokasi di Ujong Blang dan Loskala. Sementara itu, gerai di Pasar Inpres terpaksa ditutup karena keterbatasan tenaga kerja.
“Usaha ini sebenarnya sudah lama dijalankan oleh orang tua. Kalau saya sendiri mulai mengelolanya sejak tahun 2017. Sekarang kami fokus di Ujong Blang dan Loskala,” ujar Aton saat ditemui di tokonya, Sabtu (27/6).
Di gerainya, Aton menjual beragam kue khas Aceh yang masih banyak dicari masyarakat. Untuk kebutuhan hantaran adat tersedia dodol, halua, breuh wajik, bugring, dan bolu. Sementara untuk oleh-oleh, tersedia kue bhoi cokelat, pisang sale, aneka keripik, serta berbagai kue tradisional lainnya.
Ia mengatakan, produk-produknya banyak dipesan untuk berbagai acara adat, seperti pernikahan, lamaran, syukuran, hingga menjadi buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Menurutnya, permintaan terhadap kue tradisional masih cukup tinggi karena masyarakat tetap mempertahankan tradisi menggunakan makanan khas daerah dalam berbagai kegiatan.
Dalam menghadapi persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, Aton tidak hanya mengandalkan penjualan langsung di toko. Ia mulai memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok, sebagai sarana promosi agar produknya lebih dikenal masyarakat.
“Kalau sekarang harus mengikuti perkembangan zaman. Selain menjaga kualitas produk, pelayanan, dan tampilan kue, kami juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok agar lebih dikenal masyarakat,” katanya.
Aton mengaku ketertarikannya meneruskan usaha keluarga berawal dari kecintaannya terhadap seni membuat kue. Sejak kecil, ia telah belajar langsung dari orang tuanya hingga akhirnya memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha tersebut secara mandiri.
Baginya, mempertahankan usaha kue tradisional bukan sekadar mencari penghasilan. Lebih dari itu, ia ingin menjaga warisan kuliner Aceh agar tetap dikenal dan diminati oleh generasi muda di tengah derasnya perkembangan makanan modern.
Keberadaan pelaku usaha seperti Aton menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan memadukan resep turun-temurun, kualitas produk yang terjaga, pelayanan yang baik, serta strategi pemasaran digital, kue tradisional Aceh tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang sebagai bagian dari identitas budaya daerah yang patut dilestarikan.
Reporter: Risna Maulina
Editor: Zulfiana.
Leave a Reply