Mutia dan Surat Rindu untuk Ayah di Kampung Halaman

Source Doc: magnific.com

Lhokseumawe, (23/06/2026). Malam itu Mutia (20) duduk di kamar kosnya yang sunyi hanya ditemani cahaya layar laptop dan suara kipas yang berputar pelan.

Di luar hari sudah benar-benar larut tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang tidak ikut tidur yaitu rindu sebagai mahasiswa perantau kepada ayah di kampung.

Ia membuka dokumen kosong di layar lalu mengetik satu kata pertama yang selalu terasa paling berat yaitu Ayah.

Tangannya berhenti cukup lama di atas keyboard sesekali ia menarik napas sebelum melanjutkan karena terlalu banyak hal yang selama ini ia tahan sendiri tentang rumah yang jauh dan tentang dirinya yang sering pura-pura kuat.

Rindu itu tidak datang sekaligus tapi menumpuk dari hari ke hari, dari percakapan singkat dengan keluarga, dari malam-malam di kos yang terlalu sepi.

Di meja kecil itu gelas air sudah dingin sejak lama sementara layar laptop terus menyala di depannya bersamaan ketika Mutia mulai mempunyai keinginan pulang yang selalu tertunda karena tanggung jawab sebagai mahasiswa.

Pelan-pelan kata-kata itu akhirnya mengalir Mutia menulis seperti sedang berbicara dalam diam tanpa takut disela atau dihakimi.

Ia menuliskan semua yang tidak sempat ia ucapkan lelah yang ia simpan sendiri dan rindu pada rumah yang sering ia tahan agar tidak terlihat rapuh, jarinya beberapa kali berhenti di atas keyboard sebelum kembali mengetik.

Saat surat itu selesai Mutia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim, dalam beberapa detik pesan itu terkirim dan membuat ruangan terasa semakin hening.

Surat elektronik itu melintas jauh meninggalkan kamar kosnya menuju ponsel sederhana milik ayah di kampung. Setelah itu hanya ada diam dan diam itu terasa lebih berat dari biasanya.

Di kampung ayah Mutia membaca pesan itu perlahan di sela waktunya, ia memegang ponsel cukup lama sambil menatap layar tanpa terburu-buru, lalu diam cukup lama karena tidak ada kata yang langsung keluar darinya.

Dalam diam itu ada jarak yang pelan-pelan terasa lebih dekat meski tidak ada kata yang benar-benar diucapkan.

Reporter: Rahma Annisa Siregar

Editor: Afifa Khairiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *