
Source Doc: xylark.com
Lhokseumawe, (22/06/2026). Jarum jam dinding digital di sudut ruang baca utama menunjukkan pukul 02.15 WIB.
Ketika sebagian besar sudut kota telah terlelap dalam senyap, lantai dua gedung perpustakaan 24 jam universitas justru memancarkan denyut kehidupan yang berbeda.
Di bawah temaram lampu meja bernomor 42, Satria (21), tampak mengerutkan dahi. Jari-jemarinya menari cepat di atas papan ketik laptop, berkejaran dengan tenggat waktu draft skripsi yang harus dikumpulkan esok pagi.
Bagi Satria, mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Sipil ini, perpustakaan kampus bukan sekadar tempat mencari referensi buku. Tempat ini adalah suaka.
“Kalau di kosan atau di rumah, suasananya tidak pernah kondusif. Rumah saya ramai, adik-adik masih kecil, dan ruang belajar tidak ada. Sementara di kosan, sinyal sering mati dan tetangga kamar kerap menyetel musik keras-keras. Di sini, kesunyian adalah kemewahan yang gratis, “ ujar Satria dengan suara berbisik, takut memecah keheningan ruangan.
Satria tidak sendirian, di sekelilingnya ada belasan mahasiswa lain yang memiliki “shift malam” serupa.
Beberapa duduk tegap menatap layar, sebagian menyandarkan kepala sejenak di atas tumpukan buku tebal, dan yang lain tampak memijat pelipisnya yang penat.
Mereka adalah para pejuang malam, mahasiswa yang terpaksa memindahkan jam biologisnya demi meraih selembar ijazah.
Tantangan terbesar belajar di sepertiga malam bukanlah materi kuliah yang rumit, melainkan rasa kantuk yang menyiksa dan penurunan konsentrasi.
Untuk mengusir rasa kantuk, segelas kopi instan dalam termos kecil dan camilan ringan menjadi senjata wajib yang tergeletak di setiap meja.
Ketika jam menunjukkan pukul 04.30 WIB, lamat-lamat suara azan subuh berkumandang dari masjid kampus.
Satu per satu mahasiswa mulai meregangkan otot, merapikan buku, dan bersiap mengambil air wudu.
Dinding-dinding kaca perpustakaan ini telah menjadi saksi bisu. Di balik malam-malam yang sunyi, dinginnya pendingin ruangan, dan pengorbanan waktu tidur, ada cita-cita besar yang sedang dirawat dengan gigih.
Bagi mereka, perpustakaan 24 jam ini bukan sekadar tempat membaca, melainkan jembatan yang menghubungkan realitas hidup yang sulit menuju fajar masa depan yang lebih cerah.
Reporter: Shafa Zahwah
Editor: Afifa Khairiyah
Leave a Reply